Google Search

Dering Handphone Beasiswa

Sudah tiga hari terakhir ini, hampir setiap jam, terkecuali tengah-tengah malam. handphone saya terus berdering. udah kaya' orang gak penting aja (maksudnya orang penting),-hehe. Penelpon kebanyakan dari mahasiswa, tapi ada juga orang tua mereka walaupun sedikit, bahkan ada yang mengaku-ngaku saudara si mahasiswa asal Aceh Utara yang sudah menyerahkan rekening untuk keperluan administrasi beasiswa di Bagian Kesra Setdakab Aceh Utara. pertanyaan-pertanyaan dalam dialog telepon atau sms dengan mereka tak jauh-jauh dari masalah hak "pajan beasiswa cair?", pajan peng kamoe di kirem?", dan umumnya, kebayakan dari mereka yang mengontak saya, setelah mendapat informasi tentang kapan jatah beasiswa mereka langsung memutus hubungan telpon. Saya kadang geram juga,
dengan tingkah laku mereka, tapi tak pernah saya lampiaskan kepada mereka yang menelpon ataupun sms. Kadang saya juga pingin ketawa, dengan pola komunikasi mahasiswa, yang aneh-aneh. ada yang takut-takut, bicara, ada yang memanggil pak, ada yang memanggil bang. lucunya kenapa? bagi saya orang-orang yang hendak mempertanyakan hak-haknya masih takut-takut itu, lucu. toh Allah sebagai pemilik bumi sudah menjamin setiap orang harus mendapatkan haknya, sementara mereka belum mendapat haknya, buat apa mereka takut-takut.
huh.. saya hendak pergi sebentar dari kisah telepon, tidak jauh-jauh. cuma ke kamar tidur, kemudian saya mulai berbaring di kasur, sambil menaruh lengan di atas dahi (kayak orang cet langet aja,-hehe) saya mulai menghayal, andai saja, untuk masalah-masalah masyarakat lainnya yang sedang melanda Aceh Utara, banyak mahasiswa yang menelepon dan meng-sms saya di setiap jam, seperti mereka mempertanyakan hak-hak diri mereka sendiri,-beasiswa. Niscaya negeri samudera pasai itu akan segera baik, tidak akan mungkin ada lagi kasus bobol kas 220 milyar, tidak ada lagi pembiaran ada jalan dan jembatan rusak. Tak ada lagi pengemis yang berkeliaran di Banda Aceh, yang ketika kita tanya "pat gampong, droneuh?", jawabannya kalo bukan nama salah satu kampung di kecamatan saya (maaf,-rahasia), dipastikan mereka banyak yang berasal dari gampong-gampong di Kabupaten Aceh Utara. kenapa begitu? kalau mahasiswa mulai bertanya dan berdiskusi masalah rakyat, itu pertanda bahwa mahasiswa sudah mulai punya sense of crisis (kepedulian),- yang sekaligus sebagai sense of belonging (rasa memiliki), dan disaat seorang mahasiswa telah memiliki dua rasa tersebut, maka mereka bukan hanya akan menjadi pencari kerja saja setelah lulus kuliah, tapi mereka akan menjadi pekerja yang profesional dan pejuang yang keadilan yang tangguh.
untuk saat ini, hayalan untuk adanya kesadaran kolektif mahasiswa asal pasee memang masih jauh panggang dari api, buktinya, untuk hak-hak mereka saja mereka masih sulit diajak berjuang, apalagi bicara memperjuangkan keadilan untuk lima ratusan ribu rakyat Aceh utara.
#

Artikel Terkait



0 comments:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan disini,
Terimakasih atas Kunjungan anda

TENTANG YANG POENYA BLOG INI

Foto saya
Banda Aceh, Aceh, Indonesia
Dilahirkan di Gampong Pedalaman Aceh, Menempuh Pendidikan Sampai Tingkat SMA disana, Pindah dan Merantau Ke Banda Aceh. Saat ini berdomisi di Jakarta. Berminat pada kajian isu-isu sosial, ekonomi, politik. Bercita-cita Menjadi Pengusaha sekaligus politisi profesional Yang Senantiasa Akan Berjuang Untuk Mewujudkan Peradaban Yang Lebih Baik.